Home sweet home

Home sweet home

Rabu, 23 Januari 2013

MAULID NABI SAW



http://3.bp.blogspot.com/-CqWCxbLzrEU/UP-uqDDWmGI/AAAAAAAAAKk/_EKYrolbyGo/s400/156237_419664164759285_675820851_n+-+Copy+-+Copy.jpg

Bulan Rabiul Awal merupakan bulan yang sangat bersejarah dan berharga bagi umat islam didunia. Dimana pada bulan ini Alloh SWT telah mengaruniakan kepada kita umat manusia, seorang Nabi dan Rasul bernama Muhammad bin Abdullah sebagai rahmat bagi alam semesta alam. Sebagaimana firman-Nya,“Dan tiadalah Kami mengutus kamu (Muhammad), melainkan untuk (menjadi) rahmat bagi semesta alam.” (QS. al-Anbiya; 107).
Tanggal 12 Rabi’ul Awal telah menjadi salah satu tanggal istimewa bagi sebagian kaum muslimin. Tanggal ini dianggap sebagai hari kelahiran Nabi akhir zaman, sang pembawa risalah, penyempurna iman, Nabi agung Muhammad shallallahu alaihi wa ‘alaa alihi wa sahbihi wa sallam. Beliau merupakan sosok teladan umat muslim yang pada sosoknya lah kita berkaca terhadap semua tindak tanduk yang kita perbuat setiap harinya.
Tanggal 12 Rabiul Awal ini biasa disebut Maulid Nabi atau Maulud saja. Kata maulid atau milad dalam bahasa Arab berarti hari lahir. Jadi Maulid Nabi Muhammad SAW (bahasa Arab mawlid an-nabī), adalah peringatan hari lahir Nabi Muhammad SAW. Peringatan Maulid Nabi merupakan tradisi yang berkembang di masyarakat Islam jauh setelah Nabi Muhammad wafat. Masyarakat muslim di Indonesia umumnya menyambut Maulid Nabi dengan mengadakan perayaan-perayaan keagamaan seperti pembacaan shalawat nabi, pembacaan syair Barzanji dan pengajian. Peringatan ini bukan sekedar mengenang sebatas kelahiranya saja, lebih dari itu Secara subtansi, peringatan ini adalah ekspresi kegembiraan dan penghormatan kita selaku umatnya kepada Nabi Muhammad SAW. Tujuannya adalah untuk membangkitkan kecintaan kita kepada Nabi Muhammad SAW.
Diantaranya banyak menyebut manaqib (kisah hidup) dan kepribadian beliau yang mulia, menjalankan sunnah-sunnahnya yang agung, dan banyak bershalawat kepadanya. Sebagaimana hadist nabi yang artinya :“Di antara umatku yang paling cinta kepadaku adalah orang-orang yang hidup sesudahku, yang salah seorang di antara mereka ingin melihatku walau harus mengorbankan keluarga dan harta benda.” (HR. Muslim)   Salah satu bentuk kecintaan kita kepada beliau adalah bershalawat, sebagaimana yang diperintahkan Allah dalam al quran surah al ahzab ayat 56 yang artinya:           “Sesungguhnya Allah dan malaikat-malaikat-Nya bershalawat untuk Nabi. Wahai orang-orang yang beriman, bershalawatlah kalian untuk Nabi dan ucapkanlah salam penghormatan kepadanya.” (Al Ahzab: 56).
Asy Syaikh As Sa’di berkata: “(Dalam ayat ini) terdapat penjelasan tentang kemuliaan Rasulullah , ketinggian derajatnya, mulianya kedudukan beliau di sisi Allah dan di sisi makhluknya. Dan sesungguhnya Allah dan para malaikat-Nya bershalawat, yaitu memujinya di hadapan para malaikat dan kelompok makhluk yang mulia, yang menunjukkan kecintaan-Nya kepada Nabi dan para malaikat yang dekat (dengan Allah) memberi pujian, mendo’akan serta merendahkan diri kepadanya. Maka wahai orang-orang yang beriman, bershalawatlah kalian kepadanya dan ucapkanlah salam dalam rangka mengikuti Allah dan para malaikat-Nya serta sebagai balasan baginya atas sebagian hak-hak beliau atas kalian dan untuk menyempurnakan keimanan kalian. Mengagungkannya, mencintai dan memuliakan nya, serta untuk menambah kebaikan-kebaikan dan menghapus kesalahan-kesalahan kalian.” (Taisir Al Karimir Rahman, hal. 671)
Berangkat dari sini sudah sepantasnya, kita selaku umatnya selalu bersholawat kepada nabi. sebagai bentuk kecintaan kita kepada nabi. bersholwat ketika duduk, berdiri ataupun berjalan. Bersholawat Ketika pagi siang sore maupun malam. Kita berharap semoga dengan peringatan maulid nabi ini menambah kecintaan kita kepada nabi dan kembali bersemangat menjalankan sunnah-sunnahnya yang agung .

Jumat, 11 Januari 2013

PENGEMBANGAN INSTRUMENT EVALUASI NON-TES



BAB I
PENDAHULUAN

A.    Latar Belakang
Pembelajaran merupakan suatu sistem yang kompleks yang mencakup banyak elemen yang saling berkaitan satu sama lain untuk mencapai tujuan tertentu. Pembelajaran sendiri secara sederhana terdiri dari 3 tahap utama yaitu perencanaan, pelaksanaan dan evaluasi. Sesuai dengan misi mulia yang diemban pendidikan, yaitu transferring knowledge and value, tahap evaluasi membutuhkan instrument yang buakn hanya mampu pengukur keberhasilan mentransfer  ilmu (kognitif) tetapi juga nilai (afektif) dan ketrampilan (psikomotor). 
Setiap aspek yang ada dalam proses pembelajaran membutuhkan alat ukur yang tepat dan sesuai agar data yang diperoleh sesuai dengan kedaan di lapangan. Aspek kognitif yang selama ini menjadi fokus proses pembelajaran di Indonesia cenderung lebih tepat menggunakan tes sebagai alat ukur keberhasilan atau alat evaluasi, namun untuk aspek lain seperti sikap atau afektif  dan ketrampilan atau psikomotor kurang tepat jika diukur dengan tes.
Oleh karena itu, dibutuhkan instrumen jenis lain untuk mengukur aspek dalam proses pembelajaran yang berkenaan dengan domain afektif dan psikomotor. Dengan adanya instrument lain yakni berupa non-tes, data yang diperoleh untuk menggambarkan keberhasilan proses pembelajaran akan semakin lengkap dan bermakna.

B.  Rumusan Masalah
            Berdasarkan latar belakang diatas, perlu kiranya kami mengkaji tentang:
1.      Apa Pengertian evaluasi non tes?
2.      Apa sajakah macam-macam instrument evaluasi non tes?
3.      Bagaimana pengembangan instrumen evaluasi non tes dalam proses pembelajaran?

C.  Tujuan
Adapun tujuan dari penulisan makalah ini adalah untuk mengkaji tentang:
1.    Pengertian evaluasi non tes  
2.    Macam-macam instrument evaluasi non tes.
3.    Pengembangan instrument evaluasi jenis non-tes dalam proses pembelajaran.


BAB II
PEMBAHASAN

A.    Pengertian evaluasi non tes
Penilaian non test adalah “penilaian pengamatan perubahan tingkah laku yang berhubungan dengan apa yang dapat diperbuat atau dikerjakan oleh peserta didik dibandingkan dengan apa yang diketahui atau dipahaminya”. Dengan kata lain penilaian non test behubungan dengan penampilan yang dapat diamati dibandingkan dengan pengetahuan dan proses mental lainnya yang tidak dapat diamati oleh indera.
Adapun menurut Hasyim, ”Penilaian non test adalah penilaian yang mengukur kemampuan siswa secara langsung dengan tugas-tugas riil dalam proses pembelajaran. Contoh penilaian non test banyak terdapat pada keterampilan menulis untuk bahasa, percobaan laboratorium sains, bongkar pasang mesin, teknik dan sebagainya”.
Teknik penilaian nontes berarti melaksanakan penilaian dengan tidak menggunakan tes. Sedangkan teknik penilaian non tes tulis maksudnya adalah bentuk evaluasi non tes yang berbentuk tulisan atau non lisan.
Alat atau instrumen merupakan sesuatu yang dapat digunakan untuk mempermudah seseorang melaksanakan tugas atau mencapai tujuan dengan lebih efektif dan efisien. Sedangkan istilah evaluasi merupakan suatu proses untuk memperoleh kualitas tertentu terutama yang berkenaan dengan nilai dan arti, istilah lain yang memiliki maksan yang hampir sama dengan evaluasi adalah penilaian (assessment) dan pengukuran. Secara sederhana penilaian dan pengukuran meruapakan komponen yang ada di dalam ruang lingkup evaluasi, dimana penilaian merupakanproses berkesinambungan untuk mengumpulkan informasi, sedangkan pengukuran lebih khusus mengumpulkan informasi yang bersifat kuantitatif atas sesuatu.

Gambar 1. Hubungan evaluasi-penilaian-pengukuran-tes-non tes

Berdasarkan pengertian-pengertian diatas maka instrument evaluasi jenis non-tes diartikan sebagai sesuatu yang digunakan untuk mempermudah pihak-pihak tertentu untuk memperoleh kualitas atas suatu objek dengan menggunakan teknik non-tes.

B.     Macam-macam Instrument Evaluasi Non-tes
1.      Observasi (Observation)
Observasi merupakan suatu proses pengamatan dan pencatatan secara sistematis, logis, objektif dan rasional mengenati berbagai fenomena yang bertujuan untuk mengumpulkan data atau informasi dan mengukur factor-faktor yang diamati khususnya kecakapan social. Berikut ini beberapa karakteristik dari observasi, yaitu:
a.       Mempunyai tujuan
b.      Bersifat ilmiah
c.       Terdapat aspek yang diamati
d.      Praktis
Sedangkan secara lebih lanjut, terdapat tiga jenis observasi, yaitu:
a.       Observasi partisipan, dimana pengamat ikut andil dalam kegiatan kelompok yang sedang diamati.
b.      Observasi sistematik merupakan observasi dengan menggunakan kerangka yang berisi faktor-faktor yang ingin diteliti yang telah dikategorikan terlebih dahulu secara struktural.
c.       Observasi Eksperimental meupakan observasi dimana pengamat tidak berpartisipasi dalam kelompok yang diamati namun dapat mengendalikanunsur-unsur tertentu sehingga tercipta tujuan yang sesuai dengan tujuan observasi. Observasi jenis ini memungkinkan evaluator untuk mengamati sifat-sifat tertentu dengan cermat.
Adapun langkah-langkah penyusunan pedoman observasi adalah:
a.       Merumuskan tujuan observasi
b.      Membuat kisi-kisi observasi
c.       Menyusun pedoman observasi
d.      Menyusun aspek-aspek yang ingin diobservasi
e.       Melakukan uji coba pedoman observasi
f.       Merevisi pedoman observasi berdasarkan hasil uji coba
g.      Melaksanakan observasi
h.      Mengolah dan menafsirkan hasil observasi
Sama halnya dengan instrument evaluasi yang lain,obsevasi memiliki beberapa kelemahan dan kelebihan yaitu:
a.       Kelemahan:
1)      Pelaksanaannya sering terganggu keadaan cuaca atau kesan yang kurang baik dari observer maupun observi.
2)      Masalah yang sifatnya pribadi sulit diamati.
3)      Apabila memakan waktu lama, akan menimbulkan kejenuhan.
b.      Kelebihan:
1)      Observasi cocok dilakukan untuk berbagai macam fenomena.
2)      Observasi cocok untuk mengamati perilaku.
3)      Banyak aspek yang tidak dapat diukur dengan tes tetapi bisa diukur dengan observasi.
2.      Wawancara (Interview)
Wawancara merupakan salah satu bentuk instrument evaluasi jenis non tes yang dilakukan melalui percakapan dan tanya jawab baik secara langsung tanpa alat perantara maupun secara tidak langsung. Wawancara bertujuan untuk memperoleh informasi untukk menjelaskan suatu kondisi tertentu, melengkapi penyelidikan ilmiah atau untuk mempengaruhi situasi atau orang tertentu. Wawancara dapat dilakukan dengan dua cara yaitu:
a.       Wawancara Bebas dimana responnden mempunyai kebebasan untuk mengutarakan pendapatnya tanpa dibatasi oleh patokan-patokan.
b.      Wawancara Terpimpin merupakan wawancara yang dilakukan oleh subjek evaluasi dengan mengajukan pertanyaan yang sudah disusun terlebih  dahulu, sehingga responden hanya memilih jawaban yang sudah disiapkan oleh penanya.
Berikut ini merupakan langkah-langkah untuk melakukan wawancara:
a.       Merumuskan tujuan wawancara
b.      Membuat pedoman wawancara
c.       Menyususn pertanyaan yang sesuai dengan data yang diperlukan.
d.      Melakukan uji coba
e.       Melaksanakan wawancara
Sedangkan kelemahan dan kelebihan jenis instrument wawancara adalah sebagai berikut:
a.       Kelemahan:
1)      Jika subjek yang ingin diteliti banyak maka akan memakan waktu yang banyak pula.
2)      Terkadang wawancara berlangsung berlarut-larut tanpa arah.
3)      Adanya sikap yang kurang baik dari responden maupun penanya.
b.      Kelebihan:
1)      Dapat memperolehinformasi secara langsung sehingga objectivitas dapat diketahui.
2)      Dapat memperbaiki proses dan hasil belajar
3)      Pelaksanaannya lebih fleksibel, dinamis dan personal.

3.      Skala Sikap (Attitude Scale)
Sikap merupakan suatu kecenderungan  tingkah laku untuk berbuat sesuatu dengan cara, metode, teknik dan pola tertentu. Dalam mengukur sikap, guru harus memperhatikan tiga komponen sikap yaitu kognisi (pengetahuan terhadap objek), afeksi (perasaan terhadap objek), dan konasi (berperilaku terhadap objek). Model skala sikap yang biasa digunakan antara lain:
a.       Menunjukan bilangan untuk menunjukan tingkatan objek yang dinilai (1,2,3)
b.      Menunjukan frekuensi (selalu, sering, tidak pernah)
c.       Menunjukaan istilah kualitatif ( baik sekali, baik, kurang baik)
d.      Menunjukan status atau kedudukan (sangat tinggi, diatas rata-rata, rendah)
e.       Menggunakan kode bilangan atau huruf ( selalu(5), kadang-kadang (4), jarang (3), jarang sekali (2), tidaak pernah (1))
Langkah-langkah Model Linkert:
a.       Memilih variabel afektif yang akan diukur
b.      Membuat pertanyaan terait variabel yang akan diukur
c.       Mengklasifikasikan pertanyaan yang positif dan negatif
d.      Menentukan angka yang menjadi alternatif pilihan
e.       Menyusun pernyataan dan pilihan jawaban menjadi sebuah alat penilaian
f.       Melakukan uji coba
g.      Membuang butir pertanyaan yang kurang baik
h.      Melaksanakan penilaian

4.      Daftar Cek (Check List)
Daftar cek adalah suatu daftar yang berisi subjek dan aspek-aspek yang akan diamati, penilai tnnggal memberikan tanda centang (v) pda tiap-tiap aspek sesuai dengan hasil pengamatan yang dilakukan.
5.      Skala Bertingkat (Rating Scale)
Instrumen skala penilaian memberikan solusi atas kekurangan dafatr cek yang hanya mampu mencatat keberadaan fenomena-fenomena tertentu. Skala penilaian memungkinkan pengamat untuk mengetahui keberadaan fenomena tertentu sekaligus mengikur intensitas fenomena tersebut dalam tingkatan-tingkatan yang telah disusun. Namun skala penilaian memiliki beberapa kelemahan yaitu dengan adanya halo effects, yaitu efek dari kesan atau penilaian umum,generosity effects yaitu keinginan untuk berbuat baik dengan memberi nilai tinggi, dan carry over effects yaitu pengamat tidak dapat membedakan antara fenomena satu dengan fenomena yang lain.

Gambar 2. Contoh skala penilaian
Keterangan:
1 = sangat tidak suka
2 = tidak suka
3 = biasa
4 = suka
5 = sangat suka

6.      Angket (Questioner)
Angket merupakan alat untuk mengumpulkandan mencatat data, informasi, pendapat, dan paham dalam hubungan kausal. Angket dapat dikelompokan benjadi beberapa kelompok. Angket berdasarkan bentuknya dibagi menjadi dua jenis,yaitu:
a.       Angket berstruktur merupakan angket yang menyediakan beberapa kemungkinan jawaban. Angket jenis ini terdiri dari tiga bentuk:
1)      Bentuk jawaban tertutup, yaitu angket yang telah menyediakan alternative jawaban
2)      Bentuk jawaban tertutup tetapi alternative terakhir merupakan jawaban terbuka yang dapat memberikan kesempatan kepada respondenuntuk memberikan jawaban secara bebas.
3)      Bentuk jawaban bergambar, yaitu angket yang memberikan alternative jawaban berupa gambar.
b.      Angket tidak berstruktur merupakan angket yang memberikanjawaban secara terbuka. Angket ini memberikan gambaran lebih tentang situasi, namun kurang dapat dinilai secara objektif dan tifak dapat diukur secara statistic sehingga data yang diperoleh sifatnya umum.
Sedangkan ditinjau dari responden yang menjawab, maka angket dapat dibedakan menjadi dua, yaitu:
a.       Angket Langsung
Disebut angket langsung apabila angket dikirimkan dan diisi langsung oleh orang yang akan dimintai jawaban tentang dirinya.
b.      Angket Tidak Langsung
Angket diisi oleh orang yang bukan dimintai keterangan tentang dirinya.
Berikut ini merupakan langkah-langkah menyusun angket.
1)      Menyusun kisi-kisi angket
2)      Menyusun pertaanyaan-pertanyaan dan bentuk jawaban yang diinginkan.
3)      Membuat pedoman cara menjawab.
4)      Melakukan uji coba angket untuk mengetahui kelemahan angket tersebut.
5)      Merevisi angket berdasarkan hasil uji coba
6)      Menggandakan angket sesuai jumlah responden
Sama halnya dengan instrument lain, angket juga memiliki beberapa kelemahan dan keunggulan, antara lain:
a. Kelemalan:
1)      Ada kemungkinan angker diisi oleh orang yang bukan menjadi target.
2)      Target menjawab berdasarkan altternatif jawaban yang tersedia
b.  Keunggulan:
1)      Responden dapat meenjawab dengan bebas tanpa dipengaruhi hubungan dengan peneliti atau penilai.
2)      Informasi yang terkumpul lebih mudah karena homogen.
3)      Dapat mengumpulkan data dari jumlah responden yang relatif banyak.

7.  Studi Kasus (Case Study)
Studi kasus merupakan studi mendalan dan komperhensif (mampu mengungkapkan semua aspek yang melatarbelakangi suatu kasus) tentang peserta didik, kelas atau sekolah. Beriku ini merupakan tiga pertanyaan inti dalam studi kasus yang harus dijawab guru:
a.       Mengapa kasus tersebut bisa terjadi?
b.      Apa yang dilakukan oleh seseorang dalam kasus tersebut?
c.       Bagaimana pengaruh tingkah laku seseorang terhaddap lingkungan?

8.  Catatan Insidental (Anecdotal Records)
Catatan insidental merupakan catatan-catatan tentang peristiwa sepintas yang dialamipeserta didik secara peerseorangan. Catatan tersebut belum berarti apa-apa terhadap penilaian sesorang, namun dapat menjadi petunjuk yang berguna apabila dihubungkaan dengan data-data.

9.  Sosiometri
Sosiometri merupakan suatu prosedur unruk merangkum, menyusun, dan sampai batas tertentu dappat mengkualifikasi pendapat-pendapat peserta didik tentang penerimaan terhadap sesama serta hubungan diantara mereka. Langkah dalam menggunakan sosiometri:
a.       Memberikan petunjuk atau pertanyaan. Misal: tuliskan pada selembar kertas nama temanmu yang paling baik.
b.      Mengumpulkan jawab yang sesungguhnya dari peserta didik.
c.       Memasukan jawabanke dalam tabel.
d.       Gambarkan jawaban dalam sebuah sosiogram.

10.  Inventori Kepribadian
Inventori kepribadian hampir serupa dengan tes kepribadian, namun pada inventori kepribadian jawaban peserta didik selalu benar selama menyatakan dengan sesungguhnya. Walaupun demikian digunakan pula skala-skala tertentu untuk mengkuantifikasi jjawab agar dapat dibandingkan.

11.  Teknik Pemberian Penghargaan kepada Peserta Didik
Teknik pemberian penghargaan ini penting karena banyak respon atautindakan positif peserta didik yang diakibatkan oleh proses belajar yang kurang diperhatikanguru. Apabila guru memberikan penghargaan atas tindakan positif yang dilakukan peserta didik dalam berbagai bentuk, dapat meningkatkan motivasi belajar siswa. Berikut inimerupakan teknik pemberian penghargaan:
a.       Teknik Verbal merupakan pemberian penghargaan melalui pujian, dukungan, dorongan atau pengakuan.
b.      Teknik Non-verbal, melalui:
1)      Mimik dan gerakan tubuh (senyuman, acungan jempol, tepuk tangan)
2)      Cara mendekati (proximity)
3)      Sentuhan (contact)
C.     Pengembangan instrumen evaluasi non tes dalam proses pembelajaran PAI
1.      Tes Perbuatan
No.
Nama Siswa
Kemampuan Membaca
1
2
3
4
5
1.           1
Usman





2.           2
Said





3.           3
Sutejo Ade





Dst
Dst..........................






Keterangan :                                                  Skor Tes Perbuatan : 
1.    = Membaca lancar dan baik                                 = 80 – 90 = A
2.    = Membaca lancar kurang baik                            = 70 – 79 = B
3.    = Membaca Terbata-bata                                     = 60 – 69 = C
4.    = Membaca Terbata-bata dengan bantuan guru   = 50 – 59 = D
5.    = Tidak dapat membaca                                       = kurang dari 50 = E

2.      Tes Sikap
No.
Pernyataan
SS
S
TS
STS
1.
Tujuan Kita diciptakan oleh Allah SWT adalah ditugaskan sebagai Kholifah.




2.
Membaca Al Qur’an banyak mengandung nilai ibadah.




3.
Sebagai bentuk rasa syukur kita kepada Allah dapat kita lalukan dengan mengucapkan hamdalah  اَلْحَمْـدُِللهِ رَبِّ الْعَالَمِيْــنَ  "“ setiap kali kita memperoleh nikmat serta menjalankan perintah Nya dan menjauhi larangan Nya.





dst
……………………………………………….




Keterangan :                                  Skor Tes Sikap:
SS = Sangat Setuju                       = 50
S   = Setuju                                   = 40
TS = Tidak Setuju                                    = 10
STS= Sangat Tidak Setuju           = 0

3.      Portofolio yakni Tes pengalaman dilakukan dengan menggunakan portofolio dimana guru mencatat pengalaman agama berdasarkan antara lain:
-      apa yang dilihat;
-      laporan rekan guru dan pegawai lainnya; dan
-      laporan dari orangtua murid atau siswa


B.   Penilaian Afektif
Indikator : Siswa menunjukkan sikap yang terpuji

No
Nama Siswa
Aspek Penilaian
Jml
Skor
Nilai

Catatan

Disiplin
Respon
Inisiatif
Kerja
Sama
Tuntas Tugas
01









02









03









04









05









06









07









08









09









10










Catatan :
a.  Kriteria perilaku
    1 = sangat kurang                                        4 = baik
    2 = kurang                                                   5 = amat baik
    3 = cukup

b.  Nilai merupakan jumlah dari nilai tiap-tiap indikator perilaku

c.  Nilai maksimum  = 25.

d.  Keterangan nilai
  23 - 25  = sangat baik                                             8 - 12  = kurang       
  18 - 22  = baik                                            0 - 7   = sangat kurang    
                  13 - 17  = cukup     






























 BAB III
KESIMPULAN

Dari uraian diatas dapat disimpulkan bahwa tahap evaluasi membutuhkan instrument yang bukann hanya mampu pengukur keberhasilan mentransfer ilmu (kognitif) tetapi juga nilai (afektif).  Setiap aspek yang ada dalam proses pembelajaran membutuhkan alat ukur yang tepat dan sesuai agar data yang diperoleh sesuai dengan kedaan di lapangan. instrument evaluasi jenis non-tes diartikan sebagai sesuatu yang digunakan untuk mempermudah pihak-pihak tertentu untuk memperoleh kualitas atas suatu objek dengan menggunakan teknik non-tes. Instrument evaluasi non-tes tersebut terdiri dari beberapa macam, yaitu observasi, wawancara, skala sikap, daftar cek, skala lenilaian, angket, studi kasus, catataninsidental, sosiometri, inventori kepribadian dan teknik pemberian penghargaan kepadapeserta didik. Tiap jenis instrument tersebut memiliki karakteristik, langkah-langkah, kekurangan, dan kelebihan masing-masing yang memungkinkan evaluator untuk memilih instrument yang paling sesuai untuk melakukan evaluasi.



















DAFTAR PUSTAKA
            Arifin, Zainal. 2010. Evaluasi Pembelajaran. Bandung: PT.Remaja Rosdakarya.
            Arikunto, Suharsimi. 2009. Dasar-dasar Evaluasi Pendidikan. Jakarta: Bumi Aksara.
Nana Sudjana2007. Penilaian Hasil Proses Belajar Mengajar,Bandung: PT Remaja RosdaKarya.